Esquire Theme by Matthew Buchanan
Social icons by Tim van Damme

13

Apr

Menyerah

Sejak mengalami ke-down-an karena anak-anakku ga ada yang lolos OSK dan persoalan pindah rumah, keadaan hari ini cukup jauh lebih baik. Walaupun terkadang masih ada perasaan atau pemikirian, “Why did I choose this path?”

Seperti bulan-bulan pertama, penyesalan tidak memilih pilihan yang lebih enak, hidup di Singapura atau Jakarta, rasanya sudah tidak relevan lagi saat ini. Secara sudah hampir 4 bulan, dan saat inilah masanya “aktualisasi diri”. Do what I talked.

Otak gw korslet. Hahaha. Udah lah, daripada menyerah, lebih baik jalan terus. yang penting melakukan sesuatu yang bisa gw lakukan di dunia ini,

Menyerah

23

Mar

The bottom line: losers are more sensitive to the absolute values of outcomes. Winners care about the relative outcome itself. Our satisfaction is not just based on what we get, but on what we don’t get. And if what we don’t get is relatively better than what we got, we keep looking for a way to rationalize the outcome and make it more manageable. Otherwise, regret might be a nasty side effect.

16

Mar

Latih Tanding Sepakbola 

Sabtu, 1 Maret 2014

SDN Torosubang mengirimkan 3 tim dalam latih tanding sepak bola yang diadakan oleh SD Belang-Belang, salah satu sekolah penempatan Pengajar Muda Kabupaten Halmahera Selatan. Adapun peserta latih tanding terdiri dari 6 sekolah penempatan Pengajar Muda dan 1 sekolah undangan.

Mengirimkan 3 tim untuk latih tanding ternyata cukup complicated. Pasalnya, sekolah lain (kecuali sekolah penyelenggara) hanya mengirimkan maksimal dua tim, terdiri dari satu tim putra dan satu tim putri. Sekolah kami membawa satu tim putri dan dua tim putra. Tim putra bertanding melawan SD Belang-Belang, sedangkan tim putri bertanding melawan SD Indong.

Alhasil, dua tim putra hanya bermain setengah pertandingan agar semua yang datang mendapat kesempatan bermain. Namun, ternyata belum semuanya bermain sampai akhir pertandingan. Akhirnya, pertandingan tambahan antara SD Torosubang dan SD Sawangakar diadakan. 

Skor akhir ketiga pertandingan yang kami ikuti semuanya 0-0. Semoga persiapan latih tanding selanjutnya lebih maksimal lagi dan program ini bisa terus berlanjut walaupun sudah tidak ada lagi Pengajar Muda :)

09

Mar

Pergi ke Kebun!

Jumat, 27 Februari 2014.

Saya sudah janji dengan Marwan, siswa kelas V untuk pergi ke kebunnya di gunung belakang SMAN 3 Bacan. Awalnya, saya kira kami dapat berjalan lewat darat. Namun, karena mereka mengerti betapa saya akan sangat “sengsara” melewati jalan darat yang naik turun bukit (yang cukup curam), dengan baik hati mereka meminta kak Is untuk pergi menggunakan ketinting.

Dan di kebun, kami mengambil langsa, manggis, dan minum air kelapa muda. FRESH! from the tree :D

Halo!

Sabtu, 1 Maret 2014.

Ibu guru Avina membimbing anak-anak SDN Torosubang mengikuti pelajaran Seni Budaya dan Ketrampilan. Untuk pertemuan pertama, Ibu Avina menyuruh kami untuk menggambar bebas, dengan tema pemandangan. 

Ibu guru awalnya agak frustasi, karena hampir semua siswa hanya mau menggambar bunga. Banyak dari mereka yang tidak tahu (tidak mau) menggambar “pemandangan” seperti laut, hutan, dan kebun.

Namun, setelah diberi sedikit motivasi dan dorongan, mereka akhirnya mau menggambar “pemandangan”. Inilah secuplik gambar dari 4 siswi kelas 3 SDN Torosubang.

Hello 23!

It’s official. 7 March 2014. 23 my age.

Alhamdulillah…alhamdulillah…alhamdulillah…

can’t be less thankful than this. 23. good people. good friends. good family.

thank you!

19

Jan

Minggu ke-3

Mulai kerasa perbedaan antara “mengalami” dan “menjalani”. Hari pertama masuk sekolah kaget, saya kira sudah ada guru yang datang mengajar. Ternyata, saya sendiri yang pimpin apel, setelah itu baru datang Ibu Ayu dan Bapak Kepala Sekolah. Alhasil, tidak jadi rapat hari itu karena tidak ada guru lain yang datang. Padahal saya ingin sekali rapat untuk meresmikan penerimaan saya di SDN Torosubang sekaligus membahas pengeluaran dana BOS.

Kata Towi, kepala sekolah datang itu suatu prestasi. Nampaknya memang betul, hanya hari itu dan hari sebelumnya kepala sekolah hadir di sekolah. Minggu awal ini saya masih kesulitan melakukan adaptasi. Sering terasa “kenapa ya gw ambil pilihan ini?” atau “coba kalo gw tetap kerja di Jakarta atau Singapore, mungkin hidup gw ga akan sesulit ini…”. Mulai timbul perasaan-perasaan semacam demotivasi, apalagi kalau lagi ga ada kerjaan. Gw yang biasanya menikmati kesunyian, sekarang terasa menyiksa. Tapi, Alhamdulillah, masih banyak hal yang membuat gw bisa bertahan, insya Allah setahun ke depan J

Anak-anak mulai senang dengan kehadiran gw. Kegiatan sehari-hari di sini, dari pagi hingga siang mengajar di sekolah, siang cuci baju-makan-tidur siang, sore kasih les/ekskul, lalu mandi dan sholat maghrib di Masjid. Minggu kemarin gw dua kali stay di masjid sampai Isya, tapi mulai hari Minggu kemarin gw Isya di rumah. Di rumah, Ari (anak papa piara), Eka, Nanda dan temannya minta gw untuk kasih les. Alhamdulillah.

Gw merasa penyebab gw demotivasi adalah kurang bersyukur. Banyak hal yang seharusnya bisa gw lakukan tapi gw terjebak dengan “kenangan masa lalu”. Gw masih belum merasa menghadirkan jiwa gw sepenuhnya untuk desa ini. Gw merasa sebagian hidup gw masih di Jakarta. Sebagian dari diri gw masih belum bisa terima kalau gw sudah hidup ribuan kilometer dari ibukota negara Indonesia.

Di sekolah pun gw masih belum bisa menghadirkan jiwa gw sepenuhnya. Gw tau minggu kemarin masih main-main, sangat unprepared buat ngajar. Jangankan RPP, apa yang mau gw lakukan di sekolah aja ga gw buat rencananya, sehingga kerasa betul di sekolah cuma buang –buang waktu. Gw pun baru sadar, anak-anak tidak sepenuhnya disiplin. Kesepakatan kelas, harusnya bisa dibuat di semua kelas. Mengingat anak kelas V yang jumlahnya sangat banyak, kelas III dan kelas IV yang digabung kelasnya, juga kelas I dan II yang digabung kelasnya, seringkali membuat gw bingung sendiri. Apa yang harus gw kasih ke mereka? Materi seperti apa yang sebaiknya diajarkan? Metode belajar apa yang harusnya bisa gw bawakan?

Jujur, seminggu ini gw belum berbuat banyak. Belum ada interaksi intens antara gw dengan stakeholder. Hanya sekedar salam, senyum dan sapa. Keberadaan gw terasa berarti karena anak-anak meminta gw kasih mereka les untuk OSK, ekskul bola dan tae kwon do. Mudah-mudahan gw bisa memenuhi ekspektasi mereka.

1 tahun itu lama. Iya, lama buat yang menjalaninya. 1 tahun itu bisa jadi sebentar, buat mereka yang mengalaminya. Semoga gw betul-betul bisa bertahan satu tahun ke depan dan menikmati setiap detiknya tanpa rasa penyesalan. Amin…

11

Jan

30 plays

zakarialsb:

Aku Anak Halmahera - Pengajar Muda Halmahera Selatan

Thanks To : Farina Rose

Aku anak halmaheraaaa

Selamat Datang di Desa Bajo!

Memasuki hari kelima, saat itulah kami berpisah menuju desa masing-masing. Untuk pertama kalinya, saya naik perahu motor menuju desa Bajo, desaku yang kucinta dan akan menjadi tempatku bernaung selama satu tahun ke depan. Di jembatan papan, tempat saya turun, sudah menunggu serombongan anak-anak yang dengan sigap membawakan barang bawaan saya yang lumayan banyak. Setelah menitipkan barang di rumah salah satu warga, saya diajak ke depan masjid Torosubang. Di sana anak-anak sudah membentuk formasi tulisan “Selamat Datang Ibu Vina di Desa Bajo”. Ah, sungguh romantis. Saya bisa bayangkan setahun ke depan, anak-anak ini yang akan menemani saya setiap harinya.

Dari sana, kami beranjak menuju rumah baru saya. Jaraknya ternyata cukup jauh, harus melewati jembatan papan terlebih dahulu. Sampailah kami di rumah Pak Acun dan Mama Jo. Saya bersyukur, rumah yang saya tempati sekarang sangat layak, berdinding bata, ada genset, kamar mandi keramik dan makanan yang selalu tersedia di atas meja makan. Namun, pemilihan rumah yang agak jauh dari sekolah menimbulkan perbedaan persepsi bagi masyarakat Torosubang, yang letaknya berbeda dusun dengan rumah saya yang sekarang. Mereka ternyata lebih menginginkan saya tinggal di lingkungan mereka.

Saya sempat protes ke Towi, kenapa saya ditempatkan di tempat yang agak jauh dari SD. Dia berkata ada tiga alas an: 1) karena IM sudah tahun keempat, rumah yang ditinggalinya sudah 3 tahun di tempati PM, sehingga lebih baik cari suasana baru 2) karena ingin menjangkau lebih banyak masyarakat, di kecamatan, kebetulan daerah tempat tinggal saya adalah ibukota kecamatan 3) supaya saya kurus, haha.

Terlepas dari kontroversi tempat tinggal saya, saya berusaha sebaik mungkin menikmatinya. Saya senang tinggal di Bajo yang lebih ramai dari Torosubang. Saya berusaha membagi waktu saya sebaik mungkin di sekolah dan di rumah, mengingat saya beraktivitas di dua dusun yang berbeda. Towi memperkenalkan saya ke beberapa stakeholder dan masyarakat yang berpengaruh. Saya di ajak ke desa Paisumbaos, tempat puskesmas, MI dan MTs berada. Saya diajak keliling di rumah-rumah Torosubang dan sebagian di Bajo. Saya dibuatkan profil dengan foto yang paling oke dan ditempel di masjid, sekolah dan diberikan ke rumah papa piara saya. Saya diajak orientasi sekolah, pada malam pertama saya di desa.

Berbicara soal sekolah, besok hari pertama saya datang ke sekolah sebagai PM penerus Towi, the fully functioned PM. Apa yang kira-kira terjadi besok? Semoga cerita menyenangkan yang bisa saya ungkapkan dari hari ke hari.