Esquire Theme by Matthew Buchanan
Social icons by Tim van Damme

22

Sep

Kelas Inspirasi Halsel

Halo Teman-Teman Profesional!

Kami mau menawarkan kesempatan menginspirasi di daerah timur Indonesia  

Jadi, rencananya, kami dr Pengajar Muda Halmahera Selatan dan Rumah Inspirasi Halsel akan mengadakan “Kelas Inspirasi”. 

Apa itu kelas inspirasi? Kelas inspirasi adalah program di mana para profesional cuti selama satu hari kerja untuk menjadi guru di SD dan menceritakan pengalaman profesinya. Lebih jauh tentang kelas inspirasi bisa cek di kelasinpirasi.org atau @kelasinspirasi.

Ini semacam program di bawah Indonesia Mengajar buat para profesional yg mau jd relawan di bidang pendidikan 

Nah, kali ini di Halmahera Selatan, tempat kami tugas sekarang mau diadaiin Kelas Inspirasi. Kami membuka kesempatan bagi relawan inspirator, fotografer dan videografer yg bersedia hadir di sini tanggal 1-2 November 2014. Sementara hari briefingnya tanggal 26 Oktober 2014.

Kenapa harus jauh-jauh ke Halsel? 

Sebenernya Kelas Inspirasi ada di banyak kota sih. Mulai dr Jakarta, Bogor, Tangerang, Depok, Bandung sampai ke Balikpapan dan Makasar. Kalau teman-teman bisa ambil cuti agak panjang sekitar 4-5 hari. Kalian bisa menemukan kearifan lokal suku-suku laut yang beragam. Kalian juga bisa menikmati miniatur Indonesia. Dengan medan ratusan pulau dan masih banyak daerah terpencil, tentu anak-anak di sana akan sangat senang kedatangan tamu dari luat Halsel. Selain itu, teman-teman juga dapat menikmati keindahan alam Halsel. Snorkling dan nyelam2 lucu di dasar laut yang ga kalah kerennya dr Raja Ampat, bersama anak-anak yang ramah dan menyenangkan.

Bagi yg berminat ke sini bisa langsung kontak Vina (082216796596) atau ikutin perkembangan selanjutnya via twitter @ki_halsel. Pendaftaran dibuka mulai tanggal 23 September 2014 di www.kelasinspirasi.org 

Buat yg belum bisa ke sini boleh banget lho sebarin infonya ke orang lain atau kirim semangat buat murid2 di Halsel. Ditunggu ya teman2 

14

Sep

Pak Guru

Suatu pagi, kedua guru ini bercerita, bagaimana perjuangan mereka dahulu untuk bersekolah…

Faldi

Faldi anak yang baik budi pekertinya. Ia juga senang menolong dan bersikap sopan santun terhadap guru. Ia memiliki jiwa yang saya rasa lebih dewasa daripada anak seusianya. Ia juga senang sekali membaca, menulis dan mencari pengetahuan baru. Saya terkesan dengan betapa rajinnya ia menulis jurnal. Di saat teman-teman lain sudah malas menulis, ia tetap menulis jurnal. Bahkan setelah ujian nasional selesai dan ia dinyatakan lulus dari SDN Torosubang.

NEGERI PARA PEJUANG

Setiap melihat foto-foto yang menggambarkan tulisan anak-anak tentang cita-citanya, saya selalu terpancing untuk membayangkan: apa yang di benak mereka ketika menuliskannya? Apakah mereka menuliskannya dengan gembira atau justru dengan kecemasan. Gembira membayangkan kebahagiaan ketika mencapai cita-cita itu; atau kecemasan tentang apakah mereka akan sanggup menggapainya. Atau bila tidak, apalagi yang mereka pikirkan?

Dan foto-foto seperti itu bertebaran saling silang hari-hari ini di berbagai media sosial. Kelas Inspirasi Bandung ke-2 baru saja dilaksanakan. KI Jakarta ke-3, KI Sulsel serta beberapa kota lain akan segera diadakan April mendatang. Dan rekaman foto-foto itu –terima kasih buat para fotografer yang telah membuatnya abadi—dipublikasikan dalam berbagai format yang unik dan menarik sebagai bahan kampanye kegiatan Kelas Inspirasi ini. Dan rekaman itu jadi jauh lebih banyak karena KI juga telah diselenggarakan di berbagai tempat di Indonesia sejak pertama kali diadakan di Februari 2012 di Jakarta.

Lalu terperosoklah saya –seperti cerita Alice in Wonderland—dalam sebuah petualangan ke alam pikir anak-anak itu, setidaknya dalam versi fantasi saya. Fantasi tentang apa yang mereka pikirkan bahkan menjadi lebih liar ketika menyaksikan –seperti pengalaman jadi relawan KI dulu atau sekedar melihat di foto—anak-anak itu sedang duduk terpekur berdoa. Tiba-tiba saya seperti mendengar ribuan suara lafal doa anak-anak itu dengan segala impian bahagia dan sekaligus kecemasan mereka.

Sebagian barangkali berdoa dengan ceria: “Ya Tuhan, jadikan saya Flash Gordon”. Tentu ini tidak akurat karena sebagai informasi Flash Gordon adalah pahlawan generasi 80an. Atau “semoga saya bisa seperti Bambang Pamungkas”. Sebagian lain melengkapinya dengan kecemasan seperti “ya Tuhan, semoga saya bisa mengalahkan monster matematika” atau “semoga besok tidak hujan deras lagi”. Sebagian lain berdoa hal-hal sederhana dalam bisikan ringan, “Tuhan, berikan rizki cukup untuk ayahku agar ia bisa cepat pulang..”

***

Maka saat mereka menulis cita-cita di atas kertas polos dalam berbagai warna tinta, seolah mereka sedang menaruh usulan pada Tuhan di atas sana. Mereka seperti memilih dengan sadar dan mengirimkan proposal itu pada Yang Maha Kuasa. Dan seolah mereka siap dengan segala resiko ketika menaruh pilihan dalam goresan kertas itu.

Dan rumitnya setiap titik dalam goresan itu adalah momen-momen perjalanan panjang mereka ke depan. Goresan dalam tulisan itu seperti skala dalam perbandingan peta: satu centimeter di peta menggambarkan sekian juta centimeter dalam hidup sebenarnya. Titik dan garis itu seolah jatuh-bangun, gagal, maju, menang dan barangkali juga menggambarkan rangkaian ujian hidup sebenarnya nantinya.

Barangkali benar ilustrasi Rendra –dalam Sajak Sebatang Lisong— tentang tantangan mereka ini, yaitu bahwa mereka melangkah di jalan panjang, tanpa pepohonan, tanpa dangau persinggahan. Rumitnya segala hal bisa terjadi di jalan panjang itu. Setiap saat selalu ada pedang yang bisa membunuh cita-cita mereka, sengaja atau tidak.

Seorang ayah yang kelelahan setelah pulang bekerja barangkali hanya ingin mendidik anaknya untuk ‘memetakan sumber daya dengan tepat’. Saat anaknya bercerita ingin jadi dokter suatu hari nanti, ia hanya berujar ringan ‘duitnya dari mana?’. Dan pedang itu menebas tajam, pelajaran memetakan sumberdaya dipahami sang anak sebagai pelajaran tentang kelas sosial bahwa ‘si miskin tidak boleh bermimpi tinggi’.

Dalam dunia kompleks ini, seorang anak tidak hanya bertemu linear dengan guru dan orang tua semata. Maka bayangkan berapa banyaknya pedang yang bisa mengganggu jalan panjang mereka itu. Setiap fenomena dalam hidup sehari-hari mereka bisa jadi pedang yang menebas runtutan tulisan cita-cita yang telah mereka toreh sebelumnya. Sinetron, obrolan antar teman, bacaan di majalah, sapaan saat pertemuan keluarga dan semua hal bisa mengganggu rencana besar mereka. Belum hal-hal konkret yang terjadi dalam dunia nyata: uang kuliah mahal, beasiswa salah sasaran, prosedur tidak transparan dan sebagainya.

Lalu ketika seorang relawan hadir di kelas dan bercerita tentang profesinya, apa pengaruhnya bagi hal kompleks itu? Apa artinya satu hari dalam kelas mereka?

***

Jalan memang sungguh panjang. Seribu hari juga tak akan cukup. Bahkan ketika setiap hari di setiap kota di Indonesia kita mengadakan sesi Kelas Inspirasi, tidak pula bisa menjamin bahwa mereka akan memenangkan jalan panjang mereka. Orang bijak merumuskan kompleksitas variabel yang bekerja di jalan panjang itu dengan ‘kehendak Tuhan’ untuk menyederhanakan kerumitan teknokrasi serta ketersediaan dangau, pepohonan atau pedang.

Maka ini pasti bukan melulu cerita tentang anak-anak dan sebuah profesi. Toh jenis-jenis profesi adalah fungsi dinamis dari kondisi jaman. Dan selalu sah saja untuk mengganti atau mengubah impian profesi nantinya.

Tampaknya ini juga bukan lokakarya teknokrasi pendidikan. Atau seminar motivasi cita-cita. Dan rumusan kertas kebijakan atau teriakan ‘suksessss’ akan jadi mantra ajaib bagi mereka.

Atau ini sesungguhnya ini hanya dongeng sederhana soal proses mencapai, bukan soal status capaian itu sendiri. Ketika mereka menulis dan membayangkan sebuah profesi, sesungguhnya mereka sedang belajar merumuskan cita-cita dan belajar untuk meyakini bahwa setiap cita-cita harus dikejar. Ia tidak jatuh dari langit, tidak lahir karena keturunan dan tidak keluar karena cocok nomer undiannya.

Dan lihatlah fakta sederhana yang lebih luas: bahwa mereka belajar dari orang-orang yang tepat. Para relawan pengajar berdiri di hadapan kelas dan menjadi contoh sederhana bahwa –terlepas dari apapun profesinya—ia bisa hadir di depan kelas hari itu karena perjuangan panjangnya. Mereka yang pernah mengambil alih pedang dan menggunakanya bukan untuk menebas cita-cita mereka tetapi membersihkan rumput liar dan gulma yang mengganggu.

Pun demikian halnya para relawan panitia dan fotografer. Selain soal mereka juga punya mantra perjuangan sendiri tetapi bahkan pada saat itu dan hari-hari sebelumnya, mereka ini terlalu berkeras hati untuk mewujudkan sesi Kelas Inspirasi ini di sekolah-sekolah itu. Tanpa bayar, tanpa perintah, berkorban waktu-tenaga-uang dan tentu saja penuh lecet-lecet dalam koordinasi kerja sosial ini.

Maka lihatlah gambar besarnya: bahwa ini adalah sebuah orkestrasi sederhana tentang orang-orang yang berkeras hati mewujudkan cita-cita. Ini adalah operet singkat satu hari ketika para pejuang berkumpul dan bekerja dalam peran berbeda-beda. Pengajar, panitia, fasilitator, fotografer, anak-anak, guru-guru, kepala sekolah semuanya berkeras hati membangun kemajuan bersama. Tidak ada perintah, tidak ada bayaran. Berkeras hati adalah pilihan sadar kita semua.

Dan apa jadinya negeri ini bila semua orang berkeras hati mencapai cita-citanya. Kita tidak melulu sedang memimpikan bangsa kita di masa depan diisi oleh jutaan anak-anak sekarang yang tercapai cita-citanya suatu hari nanti, bangsa yang diisi oleh jutaan orang terdidik dalam berbagai ragam profesi yang bisa sama atau beda dengan yang mereka tulis hari-hari ini. Ini pasti bukan melulu soal anak-anak menjadi dokter, insinyur atau tentara. Atau profesi unik yang menyebutkannya pun sulit.

Sesungguhnya saat itu negeri ini sedang dipenuhi oleh jutaan pejuang. Dan sekali ini kita sedang membuktikan bangsa kita –dengan bantuan Anda yang menjadi relawan panitia, fasilitator, fotografer dan pengajar di KI—adalah negeri yang dipenuhi oleh para pejuang. Ya tentu saja jalan masih panjang tetapi sungguh kita menikmati seluruh kerumitan untuk kita taklukkan: satu hari Kelas Inspirasi atau ribuan hari ke depan.

Bayangkan bila kita adalah seorang anak yang menerima pelajaran soal ‘memetakan sumberdaya’ di atas. Kita akan menerimanya dengan riang: bahwa ayah mengingatkan uang SPP harus diperjuangkan seperti yang ia contohkan tiap hari ketika mencari nafkah. Ketika kita melihat sekeliling, berjuang keras adalah nafas hidup yang biasa ditemui di mana-mana. Dari orang tua, dari teman, dari guru, dari tetangga dan tentu saja dari para relawan yang pernah hadir di hadapan mereka.

Negeri para pejuang adalah kolam yang airnya berisikan oksigen yang mengandung pesan ‘pantang menyerah’. Negeri yang udaranya hanya bermaterikan partikel ‘coba lagi’. Ruang yang hujan, badai dan gerimisnya menjatuhkan air yang rasanya ‘maju terus’.

Maka ketika anak-anak negeri ini sedang menuliskan cita-citanya, sesungguhnya mereka sedang memilih untuk terus berjuang di jalan panjang mereka. Dan adalah kehormatan bagi kita untuk terus menemani mereka berjuang.

Siang ini dari Galuh, saya mencatat kesaksian bahwa para relawan KI sedang mengkonfirmasi bahwa negeri kita adalah negeri para pejuang. Salam untuk seluruh relawan, penggerak dan pegiat KI di belahan manapun negeri pejuang ini.

Hikmat Hardono

**ps: oleh-oleh dari Kamp Pegiat Jatim, Kamp Komsus KI, cerita KI Bandung-2, CFD dan kampanye KI Jakarta-3, persiapan KI Sulsel dan foto-foto yang bertebaran di mana-mana hari-hari ini.

"Langkah menjadi panutan, Ujar menjadi pengetahuan, Pengalaman menjadi Inspirasi"



sumber: http://kelasinspirasi.org/?page=negeri_para_pejuang



30

Aug

Kita bagaikan sepasang sepatu, selalu bersama tak bisa bersatu.

Two Years Later

A:
Hi you!
B:
Hi, what have you been up to?
A:
I'm doing great, just finished my courses last August.
B:
Wow, that's cool! Congratulation. So, what next? Find a job?
A:
Uhm, yeah. Sure, I will. But...
B:
But what?
A:
Can I ask you something?
B:
Yes
A:
Do you mind if I ask you to accompany me for the rest of my life?
B:
....

07

Aug

a heart breaking story

hhardono:

*ditulis khusus untuk para Pengajar Muda yang sadar atau tidak sedang menggores dalam di benak para siswanya. Selamat #hariguru.

Setiap anak –hmmm kayaknya demikian—pasti punya guru yang berkesan di memorinya. Ia menggores dalam tetapi seperti berbisik pelan di kepala kita. Berbisik pelan? Iya, coba kalau ditanya soal idola maka tampaknya nama guru paling berkesan itu tidak akan muncul di sela-sela tokoh-tokoh besar dunia dan Indonesia. Tetapi ia menggores dalam karena ia seperti memandu alam bawah sadar kita melalui segala –sebut saja—carut marut kehidupan.

Aku juga. Namanya Pak Muhajir.

***

Praktis setiap sore, sejak sebelum Maghrib sampai setelah Isya, anak-anak di kampungku menghabiskan waktunya di musholla –belakangan menjadi masjid— Darussalam. Termasuk aku, si anak paling –percaya saja deh— alim di sana.

Semuanya indah diceritakan kecuali kenyataan sederhana ini: bahwa aku tinggal di tepi jalan raya dan musholla itu terletak di ujung selatan kampung, bahwa di belakang rumahku ada kali kecil, kebun kosong dan dua pohon mangga tua, bahwa arah jalanku menyediakan aku hanya satu pilihan, yaitu berjalan sendirian tanpa teman-teman yang tinggal di bagian lain kampung ini.

Dan dimulailah hari-hari beratku setiap sore. Berangkat di sorenya mungkin tidak begitu menantang. Matahari masih bersinar dan bilah-bilah sinarnya yang jatuh di depan kita seolah mengirim pesan bahwa para jin gendruwo belum keluar dari sarang mereka. Tetapi pulangnya adalah tantangan yang berbeda. Aku harus melewati satu ruas jalan sepanjang 100an meter dengan kali kecil, dua pohon mangga besar dan –bayanganku waktu itu—beberapa ‘sesuatu’ yang bersembunyi di baliknya.

Mendengar pohon mangga dengan imajinasi buah mangga yang kuning dan manis mungkin tak akan pernah menjadi amat menakutkan bila kita tidak pernah menyaksikan dan meraba pohon mangga tua. Kulitnya menebal, membentuk keping kerak hitam legam yang pecah-pecah di sekujur batang besarnya. Di beberapa batangnya ada selajur panjang tumbuhan parasit yang dengan akar-akar kecilnya seperti ular berkaki yang sedang merayap naik. Dan pohon mangga yang tumbuh alami –bukan tanaman cangkok—umumnya bisa tumbuh amat tinggi dengan rimbun daun yang lebat. Dahan terendahnya yang diperlukan anak kecil untuk diraih dan memanjat umumnya jauh lebih tinggi dari anak paling tinggi sekalipun. Dan cobalah bayangkan kita berdiri di bawah besar pohon itu dan menatapnya ke atas apalagi di malam hari maka bahkan rembulan pun kesulitan menemukan celah untuk mengirim bilah sinarnya untuk jatuh di tanah di bawah pohon ini.

Pun sesungguhnya aku juga tidak pernah menerima paksaan dari siapapun untuk ke musholla. Ibu-Bapakku pandai mengaji yang juga bisa mengajarku mengaji di rumah. Bahkan pelajaran di rumah seringkali lebih keras dan –bagaimana mengatakannya—tegas daripada di musholla.

Tetapi membayangkan keceriaan dan keramaian di musholla maka anak mana yang tidak ingin bergabung di tempat itu. Musholla di sore hari adalah pusat peradaban di kampungku. Bila kalian baca cerita-cerita lainku –tentang beruang dan juga bukit kecil — maka selain yang sudah kuceritakan bahwa musholla itu ada di bawah bukit kecil, terletak cukup dekat dengan mata air besar di kampung namun ada satu lagi yang tersisa untuk diceritakan: di bawahnya ada satu lapangan bola yang cukup besar. Maka lengkaplah sudah pusat peradaban ini buat anak-anak di kampungku.

Hari-hari beratku itu mulai berakhir ketika suatu hari guru agamaku di sekolah mengajarkan hal sederhana di kelas. Tentang takhyul. Bahwa sebagai muslim kita harus percaya hal ghaib tetapi Allah menciptakan kita sebagai makhluk terbaik. Terbaik adalah sekalipun tetap percaya bahwa jin itu ada tetapi kita pasti lebih baik dari mereka. Aku memaknainya lebih sederhana: kita pasti bisa menang berkelahi melawan mereka.

Apakah kamu pikir sekali dengar pelajaran itu lalu jin dan gendruwo terbang ke tempat nun jauh dari kampungku? Tentu tidak. Seringkali setiap mau melewati ruas jalan itu aku berhenti di pertigaan terakhir, menata nafas dan merumuskan rencana pertempuran malam itu. Apakah akan berlari kencang, jalan sambil menutup mata dan juga mau melafalkan ayat Quran yang mana. Seringkali itu tidak berhasil karena toh ketakutan tetap membuatku mengacaukan banyak hal, lari tak tentu arah, tersandung sana-sini atau terlalu takut untuk melalui sendiri sampai menunggu orang lain lewat yang itu bisa beberapa saat lama menunggunya.

Tetapi pelahan-lahan, bisikan sederhana selalu datang padaku. Kita adalah makhluk terbaik yang diciptakan Tuhan. Iya, pelajaran sederhana dari Pak Muhajir, guru agama itu. Kata-kata itu selalu datang seperti bisikan di kepalaku. Berbeda dengan film-film modern yang menampilkan wajah orang ketika ada seorang tokoh sakti membisikkan sesuatu di telinga seorang muridnya, maka tidak demikian dengan kasusku. Tak terbayang wajahnya ketika ada bisikan itu tetapi jelas kata-katanya menggores dalam di kepalaku. Aku bahkan tidak mengingat namanya ketika mendengar bisikan itu sampai bertahun-tahun kemudian aku menyadari bahwa itu adalah pelajaran dari guruku itu.

Bertahun-tahun kemudian maka punahlah sudah para gendruwo itu. Mereka tidak sepenuhnya musnah tetapi tepatnya tidak kupedulikan lagi. Satu persatu sudah kukalahkan, kutundukkan lalu kukirim dan kupenjara di suatu tempat lain yang jauh. Dan setiap aku berjalan ke tempat-tempat aneh dan baru, bisikan itu selalu datang dan menguatkanku seperti saat aku berhenti di pertigaan terakhir sebelum melewati ruas jalan itu.

Maka setiap sampai pertigaaan manapun dan ruas jalan di depan tampak menakutkan, aku selalu membuka pelajaran lama itu. Bahwa kita adalah makhluk terbaik yang diciptakan Tuhan. Di ujung keraguan, aku selalu mengulangi bisikan itu: aku harus sampai. Dan aku juga harus pulang.

***

Suatu hari, aku masih sekolah, ada kabar dari guru-guru. Pak Muhajir meninggal dunia di kampungnya, di Mirit, Kebumen. Ia sedang pulang ke desanya, sedang tidur lalu jatuh dan kemudian meninggal. Hanya itu cerita yang kudapat.

Tidak ada takziah. Jauh sekali tempatnya, dan toh terima kabar cukup terlambat. Kami semua hanya berdoa. Dan lihat kan, meninggal pun dia hanya berbisik pelan.

Melalui angin aku hanya bisa berbisik: hai, Muhajir, guruku. Damailah engkau di sana.

Jakarta, Hari Guru 2012.
*Muhajir adalah guru di SDN Tugurejo 1, Semarang. Asalnya dari Mirit di Kebumen. Lulusan sekolah PGA, Pendidikan Guru Agama. Beliau meninggal suatu hari –kalau tidak salah—pada masa libur sekolah. Kami menerima kabar cukup terlambat dan jarak dari tempat kami ke rumah asalnya juga cukup jauh, membutuhkan 4 jam perjalanan darat.

(25 November 2012)

Hidup ternyata bukanlah jalan linear dengan persamaan dan variabel yang jelas. Seseorang dapat mencapai mimpi, seorang lain mendapat mimpi orang lain dan ada pula yang tak dapat menggapai mimpi apapun.
What is something you have lost, that you wish you could get back?

Time that I wasted for doing the wrong things. but it doesn’t really matter right now. I gained the lesson from it. It made me who I am.

14

Jul

Puasa Hari Ke-16

 Halo, semuanya! udah lama banget saya ga update tumblr ya, hheu. Sepertinya banyak yang nanya kabar saya di sini (haha, ped bgt)

Kabar saya, alhamdulillah baik. Puasa lancar dan menyenangkan :D Insya Allah berkah Ramadhan kali ini di penempatan.

Puasa pertama sampai keempat kebetulan udah bolong. Tapi, dari hari ketiga puasa saya udah ikut buka puasa (istilahnya kalo di sini batal bersama) di rumah-rumah warga. Makanan dan minumannya enak-enak, cenderung mewah kalo saya bilang dibanding hari-hari biasa. 

Kalo kata mama mantu saya #eh maksudnya kata salah satu mama anak murid saya, karena bulan puasa itu satu kali datangnya dalam satu tahun, wajar dong kalo menu hidangan buka puasanya spesial :D

oiya, kalo di desa itu QLnya 23 rakaat, 20 rakaat taraweh dengan bacaan supercepat dan rakaat kedua pasti Qulhu, dan 3 rakaat witir (2+1).

Alhamdulillah, minggu pertama anak OSIS SMA 3 Bacan bisa mengadakan pesantren kilat (yg sebenernya “kepentingan” gw, haha) dengan baik. Sebetulnya, itu ide awal gw yg mau buat sanlat, tp karena bingung ga ada anak KKN UGM lg di Bajo, jadilah gw “memanfaatkan” anak2 OSIS. 

Overall, masih banyak yang harus diperbaiki lg sih. Tapi gw salut karena mereka berhasil mengumpulkan dana sendiri, sampai masukin proposal ke Bupati dan dapet uang 4 juta. Keren banget! Salute!

Minggu ini rencananya mau Safari Ramadhan ke desa temen-temen PM. Kemarin sudah ke Papaloang sm Belang-Belang, besok insya Allah rencana mau ke Sawangakar terus lanjut Bibinoi. Akhir minggu ini mungkin mau ke Waya dan Indong.

Dannnnnn minggu depan insya Allah aku udah balik ke Jakarta dalam rangka libur lebaran… Yeay!