Esquire Theme by Matthew Buchanan
Social icons by Tim van Damme

27

Sep

Kopi dan Teh

Sejak tinggal di Halmahera Selatan, saya jadi lebih sering minum teh. Orang-orang di sini menjadikan teh sebagai minuman untuk disuguhi kepada tamu yang datang. Minum teh juga merupakan kebiasaan mengawali hari dan menikmati sore. Teh juga dijadikan teman saat membuat kue, memasak untuk hajatan, babaca dan teman saat istirahat sekolah.

Selama di sini juga saya jarang minum kopi. Bukan karena tidak ada, tapi lebih karena kurang favorit, istilah orang sini. Sementara di desa saya, kofi (bahasa Bajo untuk kopi) menjadi salah satu minuman favorit, selain teh tentunya. Kopi, seperti halnya teh, bisa diminum kapan saja. Kopi bahkan menjadi pengganti air susu ibu pada bayi-bayi yang tidak bisa minum asi.

Kopi dan teh bukan merupakan musuh. Mereka saling melengkapi, walauoun berbeda keduanya memberi rasa nikmat bagi peminumnya. Seperti halnya para pengajar muda dan rekan-rekan sepenempatannya. Walaupun mereka berasal dari tempat yang berbeda, namun ketika harus tinggal dan bekerja sama selama setahun penuh, mau tidak mau mereka harus saling melengkapi. Seperti kopi dan teh. Mereka menjadi keluarga bagi para murid-murid, guru, kepala sekolah dan masyarakat di desa penempatannya.

Kata mereka lagu ini untukmu

Ya, buat kamu yang ada di seberang lautan

Kamu yang nggak pernah berani untuk mulai duluan

Kamu yang selalu ke-GR-an :p

Kamu yang ga pernah mau ngalah

Kamu yang takut kalau aku ke-GR-an

Kamu yang diam-diam kepoin aku dan bisa tahan untuk ga nge-like apapun update statusku 

Kamu yang membuatku sadar dan percaya, bahwa takdir itu nyata

Kamu yang selalu ada di setiap mimpi dan doaku, akhir-akhir ini

Semoga Tuhan memberikan kita kesempatan untuk menjadi satu

Amin

Kelas Tiga

Semester ini saya menjadi wali kelas tiga, kelas yang anak-anaknya sangat aktif, menantang dan berisik. Ya, betapa tidak, kelas tiga sekarang hampir setengahnya merupakan anak-anak yang tinggal kelas, karena wali kelas mereka sebelumnya, Bu Ayu tidak mau menaikkan anak-anak yang belum lancar membaca. Wah, PR sekali buat saya. Padahal, sebelumnya saya sudah masuk ke kelas empat, di mana anak-anaknya sudah terseleksi oleh bu Ayu, jadi mereka semua memang sudah lancar membaca dan sikap mereka pun mudah diatur. Namun, karena satu dan lain hal, bu Ayu kemudian mengambil alih kelas empat, dan terpaksalah saya turun menjadi wali kelas tiga.

Kelas ini berisi anak-anak yang unik. Mereka semua mempunyai karakter dan kecerdasannya sendiri. Kebanyakan dari mereka cerdas music, mereka senang bernyanyi. Setiap mencatat, hampir dipastikan kelas akan selalu bersenandung. Namun, kebanyakan mereka akan menyanyikan lagu orang dewasa yang sering ditampilkan di layar kaca. Oleh karena itu, saya menerapkan peraturan bahwa mereka hanya boleh menyanyikan lagu anak-anak atau lagu kebangsaan. Peraturan itu cukup efektif diberlakukan, mereka pun senang menyanyi lagu-lagu nasional seperti Dari Sabang sampai Merauke dan Hari Merdeka.

Saya menerapkan metode belajar kreatif dan positive discipline. Saya membuatkan kartu toilet, kartu makan dan kartu meludah bagi mereka yang ingin melakukan hal-hal tersebut di luar kelas. Ya, sebelumnya, anak-anak ini suka sekali makan dan meludah di dalam kelas yang tak berkeramik, sehingga kelas menjadi kotor. Sejak saya menerapkan peraturan kartu ini, Alhamdulillah mereka semua semakin disiplin dan bahkan selalu minta izin saya serta mencari kartu jika ingin keluar kelas. Selain itu, saya juga menerapkan jadwal piket kelas, Alhamdulillah jadwal itu berjalan dengan baik. Paling tidak, setiap kali saya masuk kelas, kelas sudah bersih, tersapu dengan baik. Jika saya melihat ada sampah yang berserakan di bawah meja mereka, maka saya selalu bilang, “semut..semut..” dan mereka menjawab, “siap…siap…operasi semut…”Mereka pun segera memungut sampah dan membuangnya ke tempat sampah.

Mereka memang tidak bisa diam. Jadi, setiap saya masuk kelas, setelah berdo’a saya selalu menyanyikan lagu, “Kalau kau senang hati tepuk tangan…” Agar efektif membuat anak-anak tenang, saya pun mengganti liriknya, “Kalau kau senang hati duduk rapih… Kalau kau senang hati bilang siap…”Dan mereka pun siap belajar.

Saya pasti akan merindukan mereka, kurang dari 100 hari lagi kebersamaan saya dengan mereka di kelas tiga. Al yang rajin, Andi yang semangat belajar, Arini yang senang membantu, Opan yang baik hati,Fanda yang cerdas, Fitri Hi. Hafis yang cepat belajar, Fitriyanti yang senang belajar dan cepat paham pelajaran, Jamal yang lucu, Kasman yang inisiatifnya tinggi dan tidak mau istirahat sebelum tugasnya selesai, Melisa yang ramah, Nabil yang rajin dan senang menenangkan teman-temannya, Nofinda yang ceria, Genta yang cepat menulis, Reno yang pintar, Rudi yang baik hati dan bersemangat, Remin yang suka mengikuti saya ketika saya berada di Torosubang, Raim dan Yudi yang masih harus disemangati untuk belajar lebih giat, Aulia yang senang menulis, Amida yang senang menggambar, Riki yang senang bersekolah, Rena yang lucu dan bercita-cita menjadi pramugari, Riski yang masih jarang masuk, Sandi yang baik hati dan senang membantu, Wandi yang sudah bisa menulis namanya sendiri. Wina yang lovely dan pintar, Endang yang ternyata sudah bisa menulis dengan cakap. Ibu sayang kalian Nak :)

Ketika Allah Memampukan Orang-orang yang Terpanggil

Sudah lebih dari Sembilan bulan saya berada di sini. Teringat pada bulan-bulan awal, betapa saya sangat ingin pulang. Menyesal dengan keputusan yang saya ambil seekstrim ini. Saya ternyata tidak bisa menerima kenyataan bahwa saya hidup di pelosok dengan fasilitas minim, terbatas dan hidup dengan orang asing. Sempat jatuh sakit dan galau, kecewa, marah, sedih, kangen, semua jadi satu. Tapi seiring berjalannya waktu, semua perasaan itu berubah, menjadi sebuah kesyukuran yang luar biasa atas jalan hidup yang telah saya ambil saat ini.

Adalah kak Riska Purnamasari, seorang mahasiswa di Tsukuba University yang kebetulan saya kenala di forum ILP2MI mengetweet “Allah tidak memanggil orang-orang yang mampu, tetapi memampukan orang-orang yang terpanggil.” Saat itu saya langsung me-retweet dan memfavoritkan tweet tersebut. Pernyataan ini ternyata yang saya sadari terjadi pada diri saya dan teman-teman saya. Setelah Sembilan bulan melewati pahit getir hidup dan belajar di penempatan, manisnya persahabatan dan keramahan masyarakat serta kayanya pengalaman menjadikan kami semakin dewasa, semakin bahagia.

Banyak hal yang saya pelajari selama di sini. Saya menjadi paham bagaimana bergaul di masyarakat, menjaga hubungan baik dan terbuka dengan tim sehidup semati, berurusan dengan birokrasi dank e-belum-profesionallan para pekerja di daerah, bagaimana membuat anak-anak perhatian dengan apa yang kita ajarkan, bagaimana mengatur kelas dan memberi semangat kepada guru-guru, dan bagaimana-bagaimana yang lain, terutama bagaimana menjaga hati selama di sini untuk seseorang yang tepat. #halah

Saya yakin dan percaya, takdir inilah yang membawa saya menjadi saya yang (insya Allah) lebih baik saat ini. Teringat, bagaimana saya sangat kecewa dengan ketidakmampuan saya mengantarkan anak murid saya lolos lomba Olimpiade Sains Kuark, bagaimana saya khawatir dengan urusan kedatangan orang tua saya di sini, bagaimana saya kurang berkontribusi dalam tim, bagaimana saya belum menjadi Pengajar Muda seutuhnya.

Alhamdulillah, kunjungan dari tim Galuh, program pelatihan Pemuda Penggerak Desa dan pesantren Ramadhan mengubah segalanya. Saya menjadi semakin percaya diri melakukan berbagai program dan peraya bahwa saya bisa berbuat banyak di desa ini, di kabupaten ini. Semesta mendukung, kira-kira seperti itulah yang saya rasakan saat ini.

Mulai dari semester dua, saya sudah mulai bisa menguasai kelas dan menerapkan pembelajaran kreatif serta positive discipline. Perubahan signifikan yang ditunjukkan kepala sekolah dan beberapa guru semakin menambah semangat dan optimism saya untuk melakukan yang terbaik di sekolah. Kepercayaan masyarakat juga memberikan saya ruang yang lebih untuk berkontribusi dalam mengembangkan pendidikan di desa ini.

Semoga tiga bulan ke depan semua rencana berlangsung dengan baik, yang terpenting mendapatkan ridho dan izin Allah SWT. Amin.

Bahagia adalah melihat murid-murid berjalan ke masjid untuk shalat berjamaah, tanpa disuruh :)

22

Sep

Kelas Inspirasi Halsel

Halo Teman-Teman Profesional!

Kami mau menawarkan kesempatan menginspirasi di daerah timur Indonesia  

Jadi, rencananya, kami dr Pengajar Muda Halmahera Selatan dan Rumah Inspirasi Halsel akan mengadakan “Kelas Inspirasi”. 

Apa itu kelas inspirasi? Kelas inspirasi adalah program di mana para profesional cuti selama satu hari kerja untuk menjadi guru di SD dan menceritakan pengalaman profesinya. Lebih jauh tentang kelas inspirasi bisa cek di kelasinpirasi.org atau @kelasinspirasi.

Ini semacam program di bawah Indonesia Mengajar buat para profesional yg mau jd relawan di bidang pendidikan 

Nah, kali ini di Halmahera Selatan, tempat kami tugas sekarang mau diadaiin Kelas Inspirasi. Kami membuka kesempatan bagi relawan inspirator, fotografer dan videografer yg bersedia hadir di sini tanggal 1-2 November 2014. Sementara hari briefingnya tanggal 26 Oktober 2014.

Kenapa harus jauh-jauh ke Halsel? 

Sebenernya Kelas Inspirasi ada di banyak kota sih. Mulai dr Jakarta, Bogor, Tangerang, Depok, Bandung sampai ke Balikpapan dan Makasar. Kalau teman-teman bisa ambil cuti agak panjang sekitar 4-5 hari. Kalian bisa menemukan kearifan lokal suku-suku laut yang beragam. Kalian juga bisa menikmati miniatur Indonesia. Dengan medan ratusan pulau dan masih banyak daerah terpencil, tentu anak-anak di sana akan sangat senang kedatangan tamu dari luat Halsel. Selain itu, teman-teman juga dapat menikmati keindahan alam Halsel. Snorkling dan nyelam2 lucu di dasar laut yang ga kalah kerennya dr Raja Ampat, bersama anak-anak yang ramah dan menyenangkan.

Bagi yg berminat ke sini bisa langsung kontak Vina (082216796596) atau ikutin perkembangan selanjutnya via twitter @ki_halsel. Pendaftaran dibuka mulai tanggal 23 September 2014 di www.kelasinspirasi.org 

Buat yg belum bisa ke sini boleh banget lho sebarin infonya ke orang lain atau kirim semangat buat murid2 di Halsel. Ditunggu ya teman2 

14

Sep

Pak Guru

Suatu pagi, kedua guru ini bercerita, bagaimana perjuangan mereka dahulu untuk bersekolah…

Faldi

Faldi anak yang baik budi pekertinya. Ia juga senang menolong dan bersikap sopan santun terhadap guru. Ia memiliki jiwa yang saya rasa lebih dewasa daripada anak seusianya. Ia juga senang sekali membaca, menulis dan mencari pengetahuan baru. Saya terkesan dengan betapa rajinnya ia menulis jurnal. Di saat teman-teman lain sudah malas menulis, ia tetap menulis jurnal. Bahkan setelah ujian nasional selesai dan ia dinyatakan lulus dari SDN Torosubang.

NEGERI PARA PEJUANG

Setiap melihat foto-foto yang menggambarkan tulisan anak-anak tentang cita-citanya, saya selalu terpancing untuk membayangkan: apa yang di benak mereka ketika menuliskannya? Apakah mereka menuliskannya dengan gembira atau justru dengan kecemasan. Gembira membayangkan kebahagiaan ketika mencapai cita-cita itu; atau kecemasan tentang apakah mereka akan sanggup menggapainya. Atau bila tidak, apalagi yang mereka pikirkan?

Dan foto-foto seperti itu bertebaran saling silang hari-hari ini di berbagai media sosial. Kelas Inspirasi Bandung ke-2 baru saja dilaksanakan. KI Jakarta ke-3, KI Sulsel serta beberapa kota lain akan segera diadakan April mendatang. Dan rekaman foto-foto itu –terima kasih buat para fotografer yang telah membuatnya abadi—dipublikasikan dalam berbagai format yang unik dan menarik sebagai bahan kampanye kegiatan Kelas Inspirasi ini. Dan rekaman itu jadi jauh lebih banyak karena KI juga telah diselenggarakan di berbagai tempat di Indonesia sejak pertama kali diadakan di Februari 2012 di Jakarta.

Lalu terperosoklah saya –seperti cerita Alice in Wonderland—dalam sebuah petualangan ke alam pikir anak-anak itu, setidaknya dalam versi fantasi saya. Fantasi tentang apa yang mereka pikirkan bahkan menjadi lebih liar ketika menyaksikan –seperti pengalaman jadi relawan KI dulu atau sekedar melihat di foto—anak-anak itu sedang duduk terpekur berdoa. Tiba-tiba saya seperti mendengar ribuan suara lafal doa anak-anak itu dengan segala impian bahagia dan sekaligus kecemasan mereka.

Sebagian barangkali berdoa dengan ceria: “Ya Tuhan, jadikan saya Flash Gordon”. Tentu ini tidak akurat karena sebagai informasi Flash Gordon adalah pahlawan generasi 80an. Atau “semoga saya bisa seperti Bambang Pamungkas”. Sebagian lain melengkapinya dengan kecemasan seperti “ya Tuhan, semoga saya bisa mengalahkan monster matematika” atau “semoga besok tidak hujan deras lagi”. Sebagian lain berdoa hal-hal sederhana dalam bisikan ringan, “Tuhan, berikan rizki cukup untuk ayahku agar ia bisa cepat pulang..”

***

Maka saat mereka menulis cita-cita di atas kertas polos dalam berbagai warna tinta, seolah mereka sedang menaruh usulan pada Tuhan di atas sana. Mereka seperti memilih dengan sadar dan mengirimkan proposal itu pada Yang Maha Kuasa. Dan seolah mereka siap dengan segala resiko ketika menaruh pilihan dalam goresan kertas itu.

Dan rumitnya setiap titik dalam goresan itu adalah momen-momen perjalanan panjang mereka ke depan. Goresan dalam tulisan itu seperti skala dalam perbandingan peta: satu centimeter di peta menggambarkan sekian juta centimeter dalam hidup sebenarnya. Titik dan garis itu seolah jatuh-bangun, gagal, maju, menang dan barangkali juga menggambarkan rangkaian ujian hidup sebenarnya nantinya.

Barangkali benar ilustrasi Rendra –dalam Sajak Sebatang Lisong— tentang tantangan mereka ini, yaitu bahwa mereka melangkah di jalan panjang, tanpa pepohonan, tanpa dangau persinggahan. Rumitnya segala hal bisa terjadi di jalan panjang itu. Setiap saat selalu ada pedang yang bisa membunuh cita-cita mereka, sengaja atau tidak.

Seorang ayah yang kelelahan setelah pulang bekerja barangkali hanya ingin mendidik anaknya untuk ‘memetakan sumber daya dengan tepat’. Saat anaknya bercerita ingin jadi dokter suatu hari nanti, ia hanya berujar ringan ‘duitnya dari mana?’. Dan pedang itu menebas tajam, pelajaran memetakan sumberdaya dipahami sang anak sebagai pelajaran tentang kelas sosial bahwa ‘si miskin tidak boleh bermimpi tinggi’.

Dalam dunia kompleks ini, seorang anak tidak hanya bertemu linear dengan guru dan orang tua semata. Maka bayangkan berapa banyaknya pedang yang bisa mengganggu jalan panjang mereka itu. Setiap fenomena dalam hidup sehari-hari mereka bisa jadi pedang yang menebas runtutan tulisan cita-cita yang telah mereka toreh sebelumnya. Sinetron, obrolan antar teman, bacaan di majalah, sapaan saat pertemuan keluarga dan semua hal bisa mengganggu rencana besar mereka. Belum hal-hal konkret yang terjadi dalam dunia nyata: uang kuliah mahal, beasiswa salah sasaran, prosedur tidak transparan dan sebagainya.

Lalu ketika seorang relawan hadir di kelas dan bercerita tentang profesinya, apa pengaruhnya bagi hal kompleks itu? Apa artinya satu hari dalam kelas mereka?

***

Jalan memang sungguh panjang. Seribu hari juga tak akan cukup. Bahkan ketika setiap hari di setiap kota di Indonesia kita mengadakan sesi Kelas Inspirasi, tidak pula bisa menjamin bahwa mereka akan memenangkan jalan panjang mereka. Orang bijak merumuskan kompleksitas variabel yang bekerja di jalan panjang itu dengan ‘kehendak Tuhan’ untuk menyederhanakan kerumitan teknokrasi serta ketersediaan dangau, pepohonan atau pedang.

Maka ini pasti bukan melulu cerita tentang anak-anak dan sebuah profesi. Toh jenis-jenis profesi adalah fungsi dinamis dari kondisi jaman. Dan selalu sah saja untuk mengganti atau mengubah impian profesi nantinya.

Tampaknya ini juga bukan lokakarya teknokrasi pendidikan. Atau seminar motivasi cita-cita. Dan rumusan kertas kebijakan atau teriakan ‘suksessss’ akan jadi mantra ajaib bagi mereka.

Atau ini sesungguhnya ini hanya dongeng sederhana soal proses mencapai, bukan soal status capaian itu sendiri. Ketika mereka menulis dan membayangkan sebuah profesi, sesungguhnya mereka sedang belajar merumuskan cita-cita dan belajar untuk meyakini bahwa setiap cita-cita harus dikejar. Ia tidak jatuh dari langit, tidak lahir karena keturunan dan tidak keluar karena cocok nomer undiannya.

Dan lihatlah fakta sederhana yang lebih luas: bahwa mereka belajar dari orang-orang yang tepat. Para relawan pengajar berdiri di hadapan kelas dan menjadi contoh sederhana bahwa –terlepas dari apapun profesinya—ia bisa hadir di depan kelas hari itu karena perjuangan panjangnya. Mereka yang pernah mengambil alih pedang dan menggunakanya bukan untuk menebas cita-cita mereka tetapi membersihkan rumput liar dan gulma yang mengganggu.

Pun demikian halnya para relawan panitia dan fotografer. Selain soal mereka juga punya mantra perjuangan sendiri tetapi bahkan pada saat itu dan hari-hari sebelumnya, mereka ini terlalu berkeras hati untuk mewujudkan sesi Kelas Inspirasi ini di sekolah-sekolah itu. Tanpa bayar, tanpa perintah, berkorban waktu-tenaga-uang dan tentu saja penuh lecet-lecet dalam koordinasi kerja sosial ini.

Maka lihatlah gambar besarnya: bahwa ini adalah sebuah orkestrasi sederhana tentang orang-orang yang berkeras hati mewujudkan cita-cita. Ini adalah operet singkat satu hari ketika para pejuang berkumpul dan bekerja dalam peran berbeda-beda. Pengajar, panitia, fasilitator, fotografer, anak-anak, guru-guru, kepala sekolah semuanya berkeras hati membangun kemajuan bersama. Tidak ada perintah, tidak ada bayaran. Berkeras hati adalah pilihan sadar kita semua.

Dan apa jadinya negeri ini bila semua orang berkeras hati mencapai cita-citanya. Kita tidak melulu sedang memimpikan bangsa kita di masa depan diisi oleh jutaan anak-anak sekarang yang tercapai cita-citanya suatu hari nanti, bangsa yang diisi oleh jutaan orang terdidik dalam berbagai ragam profesi yang bisa sama atau beda dengan yang mereka tulis hari-hari ini. Ini pasti bukan melulu soal anak-anak menjadi dokter, insinyur atau tentara. Atau profesi unik yang menyebutkannya pun sulit.

Sesungguhnya saat itu negeri ini sedang dipenuhi oleh jutaan pejuang. Dan sekali ini kita sedang membuktikan bangsa kita –dengan bantuan Anda yang menjadi relawan panitia, fasilitator, fotografer dan pengajar di KI—adalah negeri yang dipenuhi oleh para pejuang. Ya tentu saja jalan masih panjang tetapi sungguh kita menikmati seluruh kerumitan untuk kita taklukkan: satu hari Kelas Inspirasi atau ribuan hari ke depan.

Bayangkan bila kita adalah seorang anak yang menerima pelajaran soal ‘memetakan sumberdaya’ di atas. Kita akan menerimanya dengan riang: bahwa ayah mengingatkan uang SPP harus diperjuangkan seperti yang ia contohkan tiap hari ketika mencari nafkah. Ketika kita melihat sekeliling, berjuang keras adalah nafas hidup yang biasa ditemui di mana-mana. Dari orang tua, dari teman, dari guru, dari tetangga dan tentu saja dari para relawan yang pernah hadir di hadapan mereka.

Negeri para pejuang adalah kolam yang airnya berisikan oksigen yang mengandung pesan ‘pantang menyerah’. Negeri yang udaranya hanya bermaterikan partikel ‘coba lagi’. Ruang yang hujan, badai dan gerimisnya menjatuhkan air yang rasanya ‘maju terus’.

Maka ketika anak-anak negeri ini sedang menuliskan cita-citanya, sesungguhnya mereka sedang memilih untuk terus berjuang di jalan panjang mereka. Dan adalah kehormatan bagi kita untuk terus menemani mereka berjuang.

Siang ini dari Galuh, saya mencatat kesaksian bahwa para relawan KI sedang mengkonfirmasi bahwa negeri kita adalah negeri para pejuang. Salam untuk seluruh relawan, penggerak dan pegiat KI di belahan manapun negeri pejuang ini.

Hikmat Hardono

**ps: oleh-oleh dari Kamp Pegiat Jatim, Kamp Komsus KI, cerita KI Bandung-2, CFD dan kampanye KI Jakarta-3, persiapan KI Sulsel dan foto-foto yang bertebaran di mana-mana hari-hari ini.

"Langkah menjadi panutan, Ujar menjadi pengetahuan, Pengalaman menjadi Inspirasi"



sumber: http://kelasinspirasi.org/?page=negeri_para_pejuang



30

Aug

Kita bagaikan sepasang sepatu, selalu bersama tak bisa bersatu.