Esquire Theme by Matthew Buchanan
Social icons by Tim van Damme

18

Oct

:))

Berbuat baiklah kepada wanita, karena sesungguhnya mereka diciptakan dari tulang rusuk, dan sesungguhnya tulang rusuk yang paling bengkok adalah yang paling atas.Maka sikapilah para wanita dengan baik.
HR. al-Bukhari 

14

Oct

Sajak Sebatang Lisong – W.S. Rendra

Menghisap sebatang lisong
melihat Indonesia Raya,
mendengar 130 juta rakyat,
dan di langit
dua tiga cukong mengangkang,
berak di atas kepala mereka

Matahari terbit.
Fajar tiba.
Dan aku melihat delapan juta kanak-kanak
tanpa pendidikan.

Aku bertanya,
tetapi pertanyaan-pertanyaanku
membentur meja kekuasaan yang macet,
dan papantulis-papantulis para pendidik
yang terlepas dari persoalan kehidupan.

Delapan juta kanak-kanak
menghadapi satu jalan panjang,
tanpa pilihan,
tanpa pepohonan,
tanpa dangau persinggahan,
tanpa ada bayangan ujungnya.
…………………

Menghisap udara
yang disemprot deodorant,
aku melihat sarjana-sarjana menganggur
berpeluh di jalan raya;
aku melihat wanita bunting
antri uang pensiun.

Dan di langit;
para tekhnokrat berkata :

bahwa bangsa kita adalah malas,
bahwa bangsa mesti dibangun;
mesti di-up-grade
disesuaikan dengan teknologi yang diimpor

Gunung-gunung menjulang.
Langit pesta warna di dalam senjakala
Dan aku melihat
protes-protes yang terpendam,
terhimpit di bawah tilam.

Aku bertanya,
tetapi pertanyaanku
membentur jidat penyair-penyair salon,
yang bersajak tentang anggur dan rembulan,
sementara ketidakadilan terjadi di sampingnya
dan delapan juta kanak-kanak tanpa pendidikan
termangu-mangu di kaki dewi kesenian.

Bunga-bunga bangsa tahun depan
berkunang-kunang pandang matanya,
di bawah iklan berlampu neon,
Berjuta-juta harapan ibu dan bapak
menjadi gemalau suara yang kacau,
menjadi karang di bawah muka samodra.
………………

Kita harus berhenti membeli rumus-rumus asing.
Diktat-diktat hanya boleh memberi metode,
tetapi kita sendiri mesti merumuskan keadaan.
Kita mesti keluar ke jalan raya,
keluar ke desa-desa,
mencatat sendiri semua gejala,
dan menghayati persoalan yang nyata.

Inilah sajakku
Pamplet masa darurat.
Apakah artinya kesenian,
bila terpisah dari derita lingkungan.
Apakah artinya berpikir,
bila terpisah dari masalah kehidupan.

19 Agustus 1977
ITB Bandung
Potret Pembangunan dalam Puisi

Menulis: To Express, Not to Impress

academicus:

Saat sedang santai memantau linimasa twitter, tiba-tiba saya mendapatkan link blog Kang Ridwan Kamil —> http://ridwankamil.wordpress.com/. Sosok pemimpin idola yang setiap hari saya ikuti sepak terjangnya via sosial media, ternyata juga punya blog dan banyak menulis tentang…

27

Sep

Kopi dan Teh

Sejak tinggal di Halmahera Selatan, saya jadi lebih sering minum teh. Orang-orang di sini menjadikan teh sebagai minuman untuk disuguhi kepada tamu yang datang. Minum teh juga merupakan kebiasaan mengawali hari dan menikmati sore. Teh juga dijadikan teman saat membuat kue, memasak untuk hajatan, babaca dan teman saat istirahat sekolah.

Selama di sini juga saya jarang minum kopi. Bukan karena tidak ada, tapi lebih karena kurang favorit, istilah orang sini. Sementara di desa saya, kofi (bahasa Bajo untuk kopi) menjadi salah satu minuman favorit, selain teh tentunya. Kopi, seperti halnya teh, bisa diminum kapan saja. Kopi bahkan menjadi pengganti air susu ibu pada bayi-bayi yang tidak bisa minum asi.

Kopi dan teh bukan merupakan musuh. Mereka saling melengkapi, walauoun berbeda keduanya memberi rasa nikmat bagi peminumnya. Seperti halnya para pengajar muda dan rekan-rekan sepenempatannya. Walaupun mereka berasal dari tempat yang berbeda, namun ketika harus tinggal dan bekerja sama selama setahun penuh, mau tidak mau mereka harus saling melengkapi. Seperti kopi dan teh. Mereka menjadi keluarga bagi para murid-murid, guru, kepala sekolah dan masyarakat di desa penempatannya.

Kata mereka lagu ini untukmu

Ya, buat kamu yang ada di seberang lautan

Kamu yang nggak pernah berani untuk mulai duluan

Kamu yang selalu ke-GR-an :p

Kamu yang ga pernah mau ngalah

Kamu yang takut kalau aku ke-GR-an

Kamu yang diam-diam kepoin aku dan bisa tahan untuk ga nge-like apapun update statusku 

Kamu yang membuatku sadar dan percaya, bahwa takdir itu nyata

Kamu yang selalu ada di setiap mimpi dan doaku, akhir-akhir ini

Semoga Tuhan memberikan kita kesempatan untuk menjadi satu

Amin

Kelas Tiga

Semester ini saya menjadi wali kelas tiga, kelas yang anak-anaknya sangat aktif, menantang dan berisik. Ya, betapa tidak, kelas tiga sekarang hampir setengahnya merupakan anak-anak yang tinggal kelas, karena wali kelas mereka sebelumnya, Bu Ayu tidak mau menaikkan anak-anak yang belum lancar membaca. Wah, PR sekali buat saya. Padahal, sebelumnya saya sudah masuk ke kelas empat, di mana anak-anaknya sudah terseleksi oleh bu Ayu, jadi mereka semua memang sudah lancar membaca dan sikap mereka pun mudah diatur. Namun, karena satu dan lain hal, bu Ayu kemudian mengambil alih kelas empat, dan terpaksalah saya turun menjadi wali kelas tiga.

Kelas ini berisi anak-anak yang unik. Mereka semua mempunyai karakter dan kecerdasannya sendiri. Kebanyakan dari mereka cerdas music, mereka senang bernyanyi. Setiap mencatat, hampir dipastikan kelas akan selalu bersenandung. Namun, kebanyakan mereka akan menyanyikan lagu orang dewasa yang sering ditampilkan di layar kaca. Oleh karena itu, saya menerapkan peraturan bahwa mereka hanya boleh menyanyikan lagu anak-anak atau lagu kebangsaan. Peraturan itu cukup efektif diberlakukan, mereka pun senang menyanyi lagu-lagu nasional seperti Dari Sabang sampai Merauke dan Hari Merdeka.

Saya menerapkan metode belajar kreatif dan positive discipline. Saya membuatkan kartu toilet, kartu makan dan kartu meludah bagi mereka yang ingin melakukan hal-hal tersebut di luar kelas. Ya, sebelumnya, anak-anak ini suka sekali makan dan meludah di dalam kelas yang tak berkeramik, sehingga kelas menjadi kotor. Sejak saya menerapkan peraturan kartu ini, Alhamdulillah mereka semua semakin disiplin dan bahkan selalu minta izin saya serta mencari kartu jika ingin keluar kelas. Selain itu, saya juga menerapkan jadwal piket kelas, Alhamdulillah jadwal itu berjalan dengan baik. Paling tidak, setiap kali saya masuk kelas, kelas sudah bersih, tersapu dengan baik. Jika saya melihat ada sampah yang berserakan di bawah meja mereka, maka saya selalu bilang, “semut..semut..” dan mereka menjawab, “siap…siap…operasi semut…”Mereka pun segera memungut sampah dan membuangnya ke tempat sampah.

Mereka memang tidak bisa diam. Jadi, setiap saya masuk kelas, setelah berdo’a saya selalu menyanyikan lagu, “Kalau kau senang hati tepuk tangan…” Agar efektif membuat anak-anak tenang, saya pun mengganti liriknya, “Kalau kau senang hati duduk rapih… Kalau kau senang hati bilang siap…”Dan mereka pun siap belajar.

Saya pasti akan merindukan mereka, kurang dari 100 hari lagi kebersamaan saya dengan mereka di kelas tiga. Al yang rajin, Andi yang semangat belajar, Arini yang senang membantu, Opan yang baik hati,Fanda yang cerdas, Fitri Hi. Hafis yang cepat belajar, Fitriyanti yang senang belajar dan cepat paham pelajaran, Jamal yang lucu, Kasman yang inisiatifnya tinggi dan tidak mau istirahat sebelum tugasnya selesai, Melisa yang ramah, Nabil yang rajin dan senang menenangkan teman-temannya, Nofinda yang ceria, Genta yang cepat menulis, Reno yang pintar, Rudi yang baik hati dan bersemangat, Remin yang suka mengikuti saya ketika saya berada di Torosubang, Raim dan Yudi yang masih harus disemangati untuk belajar lebih giat, Aulia yang senang menulis, Amida yang senang menggambar, Riki yang senang bersekolah, Rena yang lucu dan bercita-cita menjadi pramugari, Riski yang masih jarang masuk, Sandi yang baik hati dan senang membantu, Wandi yang sudah bisa menulis namanya sendiri. Wina yang lovely dan pintar, Endang yang ternyata sudah bisa menulis dengan cakap. Ibu sayang kalian Nak :)

Ketika Allah Memampukan Orang-orang yang Terpanggil

Sudah lebih dari Sembilan bulan saya berada di sini. Teringat pada bulan-bulan awal, betapa saya sangat ingin pulang. Menyesal dengan keputusan yang saya ambil seekstrim ini. Saya ternyata tidak bisa menerima kenyataan bahwa saya hidup di pelosok dengan fasilitas minim, terbatas dan hidup dengan orang asing. Sempat jatuh sakit dan galau, kecewa, marah, sedih, kangen, semua jadi satu. Tapi seiring berjalannya waktu, semua perasaan itu berubah, menjadi sebuah kesyukuran yang luar biasa atas jalan hidup yang telah saya ambil saat ini.

Adalah kak Riska Purnamasari, seorang mahasiswa di Tsukuba University yang kebetulan saya kenala di forum ILP2MI mengetweet “Allah tidak memanggil orang-orang yang mampu, tetapi memampukan orang-orang yang terpanggil.” Saat itu saya langsung me-retweet dan memfavoritkan tweet tersebut. Pernyataan ini ternyata yang saya sadari terjadi pada diri saya dan teman-teman saya. Setelah Sembilan bulan melewati pahit getir hidup dan belajar di penempatan, manisnya persahabatan dan keramahan masyarakat serta kayanya pengalaman menjadikan kami semakin dewasa, semakin bahagia.

Banyak hal yang saya pelajari selama di sini. Saya menjadi paham bagaimana bergaul di masyarakat, menjaga hubungan baik dan terbuka dengan tim sehidup semati, berurusan dengan birokrasi dank e-belum-profesionallan para pekerja di daerah, bagaimana membuat anak-anak perhatian dengan apa yang kita ajarkan, bagaimana mengatur kelas dan memberi semangat kepada guru-guru, dan bagaimana-bagaimana yang lain, terutama bagaimana menjaga hati selama di sini untuk seseorang yang tepat. #halah

Saya yakin dan percaya, takdir inilah yang membawa saya menjadi saya yang (insya Allah) lebih baik saat ini. Teringat, bagaimana saya sangat kecewa dengan ketidakmampuan saya mengantarkan anak murid saya lolos lomba Olimpiade Sains Kuark, bagaimana saya khawatir dengan urusan kedatangan orang tua saya di sini, bagaimana saya kurang berkontribusi dalam tim, bagaimana saya belum menjadi Pengajar Muda seutuhnya.

Alhamdulillah, kunjungan dari tim Galuh, program pelatihan Pemuda Penggerak Desa dan pesantren Ramadhan mengubah segalanya. Saya menjadi semakin percaya diri melakukan berbagai program dan peraya bahwa saya bisa berbuat banyak di desa ini, di kabupaten ini. Semesta mendukung, kira-kira seperti itulah yang saya rasakan saat ini.

Mulai dari semester dua, saya sudah mulai bisa menguasai kelas dan menerapkan pembelajaran kreatif serta positive discipline. Perubahan signifikan yang ditunjukkan kepala sekolah dan beberapa guru semakin menambah semangat dan optimism saya untuk melakukan yang terbaik di sekolah. Kepercayaan masyarakat juga memberikan saya ruang yang lebih untuk berkontribusi dalam mengembangkan pendidikan di desa ini.

Semoga tiga bulan ke depan semua rencana berlangsung dengan baik, yang terpenting mendapatkan ridho dan izin Allah SWT. Amin.

Bahagia adalah melihat murid-murid berjalan ke masjid untuk shalat berjamaah, tanpa disuruh :)